Event

UTC Training – PARAHITA Education Provider

PARAHITA Education Provider selama semester 1 tahun 2017, mengadakan pelatihan yang bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM), Instansi maupun para professional/praktisi di bidang adiksi.

Pelatihan pertama diadakan di kota Pontianak pada tanggal 6-10 Mare Maret 2017 bersama dengan pihak West Borneo Action. Kurikulum yang diajarkan adalah UTC 4 (Ketrampilan Konseling Dasar) dan UTC 7 (Intervensi Krisis)

Sementara itu, untuk pelatihan berikutnya, bekerja sama dengan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, kembali PARAHITA Education Provider melaksanakan pelatihan UTC 4 (Ketrampilan Konseling Dasar) dan UTC 6 (Manajemen Kasus). Adapun pelatihan ini berlangsung selama 4 hari (25-28 April 2017)

Dan selanjutnya pada tgl. 8-11 Mei 2017, PARAHITA Education Provider mengadakan pelatihan kepada para professional/pratisi bertempat di Pusdiklat Kesos Kemensos. Kali ini peserta secara mandiri (daftar, bayar dan datang) ke tempat pelatihan untuk mengikuti UTC 2 (Terapi Untuk Gangguan Penggunaan Zat – Rawatan Berkelanjutan) dan UTC 6 (Manajemen Kasus)

Read more

Buka Puasa Bersama

Pada bulan Ramadhan 2017 tepatnya di tanggal 19 Juni bersama dengan para stake holder, PARAHITA Education Provider mengadakan buka puasa bersama. Buka puasa bersama yang berlangsung di Le Gran Café dipenuhi suasana kekeluargaan diantara para penggiat dunia adiksi di Indonesia.

Read more

Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum 1

1200 tenaga kerja IPWL mendapatkan pelatihan kurikulum 1 : Fisiologi dan Farmakologi bagi Profesional di Bidang Adiksi dengan lokasi Hotel Sahid Jaya Cikarang dan Hotel Aston Bekasi. Bimbingan Teknis (Bimtek) hasil kerjasama Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahguna NAPZA-Kementerian Sosial RI dengan PARAHITA Education Provider dilakukan secara bertahap sebanyak 5 kali dimulai sejak awal Oktober-awal Desember 2016.

Untitled-1

 

Read more

Refresher Training dan Uji Kompetensi untuk Konselor Adiksi

Refresher Training merupakan kegiatan penyegaran materi bagi konselor, pekerja sosial, praktisi klinis dan medis, akademisi, pembuat kebijakan, widyaiswara, anggota masyarakat yang sedang mengikuti program pemulihan dan pekerja di bidang adiksi yang akan mengikuti ujian sertifikasi untuk mendapat sertifikat konselor adiksi yang diakui secara internasional.

Pusat Pengembangan Profesi Pekerja Sosial dan Penyuluh Sosial (Pusbangprof Peksos dan Pensos), Kementerian Sosial RI bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Parahita Education Provider, Yayasan Kasih Mulia dan Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI)  menyelenggarakan  training ini bagi 60 orang peserta yang berlokasi di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Jl. Margaguna Raya No. 1 dari tanggal 24 – 29 Oktober 2016.

Rangkaian Refresher Training terbagi dalam kegiatan training dari tanggal 24 – 28 Oktober 2016 dan kegiatan ujian sertifikasi 29 Oktober 2016.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapan peserta dalam mengikuti ujian untuk mendapatkan kredensial International Certified Addiction Professionals (ICAP) yang diakui National Association of Alcohol and Drugs Abuse Conselors (NAADAC). Tingkat kesulitan yang dihadapi peserta ujian sangat tinggi, oleh karena itu peserta ujian perlu dipersiapkan secara matang. Persyaratan dan seleksi peserta sangat ketat, baik yang ingin mendapatkan ICAP I ataupun ICAP II. Calon peserta harus mengirimkan verifikasi tertulis dalam bentuk surat resmi dari supervisor atau pimpinan yang menjelaskan kompetensi diri dalam penanganan GPZ. Calon peserta juga diharuskan membaca dan menandatangani kode etik komisi ICCE.

Read more

Bimbingan Teknis Pelaksanaan Tugas Pekerja Sosial di Institusi Penerima Wajib Lapor

Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan NAPZA bersama dengan Parahita Education Provider mengadakan pelatihan Kurikulum 1 : Fisiologi dan Farmakologi Adiksi Bagi Para Profesional. Pelatihan tahap I ini diberikan kepada 210 Pekerja Sosial di lingkungan IPWL.

Read more

Kita Berada Dalam Darurat Narkoba

Dalam situasi darurat Narkoba di Indonesia, Presedien RI – Joko widodo tidak tinggal diam. Ia menawarkan sebuah gerakan baru yang melibatkan semua pihak untuk ikut berpikir dan bertindak terhadap pengaruh negatif narkoba.

Inilah sebuah gerakan penting dan menjadi pintu masuk bagi upaya-upaya pencegahan terhadap jaringan narkoba yang sulit dibendung. Gerakan merehablitasi 100 ribu pengguna narkoba dan adiksi lainnya oleh Presiden adalah program nyata yang harus ditindaklanjuti oleh lembaga- lembaga pemerintah dan swasta.

Gerakan baru ini dilihat sebagai momen penting dimana Negara merasa bertanggungjawab terhadap pengaruh adiksi yang merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat dan masa depan generasi muda khususnya.

Hal ini bukan perkara kecil. Kita dituntut untuk turun tangan bersama terutama memiliki tekad untuk mengadakan pencegahan terhadap merebaknya narkoba di Indonesia. Sebanyak 100 ribu orang yang harus direhabilitasi, ini bukan sekedar euforia seorang Presiden. Tapi ia memiliki keprihatinan yang dalam terhadap korban narkoba yang semakin mengkawatirkan keluarga dan masyarakat.

Gerakan rehabilitasi ini merujuk pada data prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia tahun 2015 yang dirilis oleh Puslitdatin BNN, diketahui bahwa angka prevalensi itu sebesar 2.20% atau setara dengan 4.098.029. Terdiri dari 1.599.836 orang kelompok coba pakai (0.86%); 1.511.35 tergolong orang teratur pakai (0.81%); 68.902 tergolong pecandu suntik (0.04%) dan 918.256 termasuk kelompok pecandu non- suntik (0.49%). Terjadi peningkatan sebesar 0.02% dari tahun 2015 dimana angka prevalensi sebesar 2.18%.

Dengan peningkatan angka prevalensi ini, kita ditantang untuk mengoptimalisasi upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba secara menyeluruh, dan salah satunya ialah upaya melakukan rehabilitasi terhadap pecandu narkoba secara berkualitas dan mendorong pendirian dan pengembangan panti rehabilitasi narkoba dalam kerja sama dengan komponen masyarakat.

Pada satu sisi, pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN), Kemensos maupun Depkes, telah mengembangkan program-program pencegahan dan pemulihan. Meskipun demikian, ternyata pemerintah belum cukup siap menghadapi program rehabilitasi 100 ribu pengguna narkoba yang dicanangkan oleh Presiden RI.

Pada sisi lain, kesulitan yang dihadapi ialah tidak saja menyangkut pembangunan panti rehab oleh pemerintah dan komponen masyarakat, tapi juga menyediakan tenaga-tenaga trampil: profesional dan kompeten di bidang adiksi ini.

Sesungguhnya, selama hampir 20 tahun, sejak berdirinya pada tahun 1998, YKM sudah menjawab apa yang diharapkan oleh Presiden pada saat ini. Ketika Indonesia ada dalam darurat narkoba, maka sangat dibutuhkan para konselor adiksi yang profesional dan kompeten, tapi juga panti rehab yang memenuhi standar nasional maupun internasional.

Dalam konteks itu, YKM jauh hari telah meningkatkan mutu pelayanannya dari program pemulihan menuju ketersediaan sekolah bagi tenaga profesional: sebagai konselor adiksi dan profesional adiksi dalam level nasional maupun internasional. Hal ini berarti YKM melalui Kedhaton Parahitanya telah menjadi pusat pembelajaran (Learning Center of WFTC) berdasarkan pengalaman- pengalaman akan penanggulangan korban adiksi dari pendekatan Therapeutic Community.

Demikian juga, YKM telah dipercayakan sebagai Education Provider for Addiction Professional (Pendidikan bagi Profesional Adiksi) dengan nama Parahita Education Provider (PEP).

Sejak awal YKM telah berpikir bagaimana meningkatkan mutu pelayananya terhadap korban narkoba dan pencegahan terhadap pengaruh narkoba sesuai dengan harapan pemerintah Indonesia maupun dunia. Melalui “Learning Center of Therapeutic Comunity” (dalam kerja sama dengan World Federation Therapeutic Communities) dan PEP (dalam kerja sama dengan Colombo-Plan), YKM telah siap menyambut pelaksanaan program rehabilitasi 100 ribu orang yang dicanangkan oleh Presiden RI, Joko Widodo secara efektif and efisien berdasarkan pengalaman dan pengetahuan (evident based).
(LS)

Read more

Bersama Membangun Solidaritas

Kepedulian hati bagi korban Narkoba bukan urusan pribadi semata. Mengajak dan mengundang orang-orang lain untuk solider terhadap mereka yang tersingkir dan tak berdaya adalah prinsip tanggungjawab bersama.

Akan tetapi, kepedulian itu harus berakar pada cinta. Kita harus teruji dalam perbuatan sehingga cinta bukan berada pada tataran diskusi saja. Maka dari itu, cinta itu harus diuji bagai emas yang harus dibakar sehingga menghasilkan emas murni.

Kedhaton Parahita adalah sekolah cinta kasih dimana kita percaya bahwa cinta adalah obat penyembuh satu-satunya. Di tempat ini ditemukan banyak orang muda yang mengalami luka-luka batin yang serius, maka tidak heran kalau mereka saling menyakiti selama ini. Tapi serentak terhadap mereka kita menawarkan pertobatan, penerimaan dan pengakuan.

Pada sekolah cinta ini, kita belajar sesuatu yang lebih bernilai, yaitu “Semoga semua orang menjadi satu” di dalam persaudaraan karena solidaritas bersama. Itulah sebabnya, kita diutus untuk bersama-sama mendukung kehidupan sesama. “Tiada kasih yang lebih besar dari seorang sahabat yang menyerahkan nyawanya bagi mereka”. Kita menjadi sabahat, bukan menjadi murid.

Maka seharusnya kita tidak merasa terkurung oleh gedung-gedung mati ini, tapi kita menawarkan harapan hidup baru dalam bentuk solidaritas bersama mereka. Kita harus membangun jejaring kasih bersama orang lain dan mengundang mereka untuk ikut terlibat bersama membangun cinta di tengah dunia.

Ternyata, cinta itu melintasi batas-batas politik, suku, ekonomi, kelompok dan etnik. Melalui cinta kita berjumpa dan menerima sesama apa adanya baik dalam untung dan malam, dalam suka dan duka, dalam kegembiraan dan kesedihan, dan dalam penderitaan dan penghiburan. Dengan cinta kita berdiri tegak sebagai teladan hidup dimana orang dapat mendengar kita dan terdorong berbuat baik dalam kehidupannya nanti. (LS)

Read more

Setiap Orang Memiliki Kebaikan- Kebaikan

Ketika Yesus memulai misinya, ia hanya memiliki 12 murid. Tapi herannya, ia dapat mempengaruhi seluruh dunia dengan cara hidupnya yang luar biasa.

Semestinya hal yang sama terjadi dengan para pengikut-Nya pula. Mereka, dalam hidupnya, telah membawa Yesus sebagai saksi dari kasih Allah di tengah dunia dan masyarakat. “Kita adalah saksi- Nya, artinya apa yang didengar dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari berasal dari Dia yang mengutus.” Tapi sesungguhnya, Dia tidak bicara tentang warga Kristen semata, tapi tentang warga dunia, seluruh umat manusia.

Kepada kita, dikatakan-Nya, “Bawalah kabar sukacita, kabar gembira dan kabar keselamatan kepada semua orang, kapan dan dimana saja. Dalam situasi apa saja, kabar gembira itu diwartakan, entah dalam makan bersama, rekreasi bersama, kerja bersama, sharing bersama, olahraga bersama, dan sebagainya.

Misi kita ialah mengubah orang yang dulu dianggap penjahat, menjadi orang baik-baik. Kita harus mengakui orang lain sebagai orang baik, karena Yesus sendiri mengakui manusia sebagai orang baik. Maka pada setiap orang Tuhan telah memberikan kebaikan- kebaikan yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Oleh karena itu kita perlu meyakinkan orang lain itu tentang kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirinya dan dapat dikembangkan untuk sesamanya.

Di sinilah kita butu komunikasi sebagai syarat untuk kita saling mengenal satu dengan yang lain. Dalam arti ini, kita dipanggil dan diutus Tuhan untuk memberdayakan sesama melalui berbagai cara. Dana yang tersedia adalah salah satu cara untuk memberdayakannya.

Tapi paling penting ialah orang bersangkutan harus sadar bahwa ada kebaikan-kebaikan yang diberikan Tuhan dalam dirinya. Jadi bukan sekedar cari dana untuk mendorong aktualisasi potensi dirinya, tapi kita bersama-sama bekerja sama untuk memberdayakan dan mengaktualisasikan potensi dan kebaikan yang ada dalam dirinya.

Dalam arti ini, kita mengembangkan potensi dirinya, dan bukan milik kita. Seharusnya pemberdayaan diri orang lain harus tiba pada kesadaran bahwa mereka sendiri merasakan mereka punya. Contohnya kita membuat mesjid, jalan raya, dan lainnya agar kita mengajak dia menyadari bahwa kita saling membutuhkan, karena kita memiliki potensi dan kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri. Hal ini tidak berarti, kita cari nama karena telah memberdayakan potensi dirinya. Sebaliknya, upaya pemberdayaan itu adalah kesadaran bahwa kita menjadi sesama bagi orang lain. Di sinilah kita menjadi pewarta kasih Tuhan kepada lingkungan dimana kita tinggal dan hidup lintas agama, suku, ras dan golongan. (LS)

Read more
1
Halo, ada yang bisa kami bantu?
Powered by